REFLEKSIFITAS
AKHIR TAHUN 2013
“Ditengah
krisis imperialisme yang semakin kronis, pemuda mahasiswa terus menggalang
persatuan serta memperbesar perlawanan terhadap imperialisme, feodalisme,
kapitalis birokrat menuju perubahan sejati rakyat”
Lembaran
tahun 2013 tidak lama lagi akan berakhir, berikutnya tahun 2014 akan segera
menanti dengan segala aspek keberlangsungannya. Penantian rakyat untuk
mengakhiri kesusahan dalam hidupnya juga terus bernaung tanpa henti di setiap
waktu perjalanannya. Eksistensi imperialisme yang masih terus bercokol dalam
menguasai seluruh segi kehidupan rakyat dan terus mempertahankan corak ekonomi
terbelakang feodalisme serta menciptakan dan melanggengkan para kaki tangannya
di pemerintahan dalam negeri telah menjadi musuh besar bagi rakyat dari tahun
ke tahun untuk segera dihancurkan dari ibu pertiwi.
Tahun
2013 merupakan tahun yang menjadi moment penting bagi seluruh rakyat di seluruh
negeri tak terkecuali rakyat Indonesia. Di tahun yang akan segera berakhir ini,
telah banyak memberikan pelajaran dan pemahaman terhadap rakyat akan wujud
musuhnya dan berbagai skema yang akan dan sedang dijalankannya. Hal ini sangat
berarti bagi gerak perubahan atas masa depan rakyat, dengan mengerti dan
memahami atas penghisapan dan penindasan atas dirinya, rakyat terus menyatukan
pandangan dan kekuatan semakin besar dan kuat setahap demi setahap guna
merobohkan bangunan usang imperialisme, feodalisme, dan kapitalis birokrat yang
menciptakan sistem penghisapan setengah jajahan setengah feodal. Sementara itu,
kemerosotan atas ekonomi, politik, dan kebudayaan rakyat juga semakin bertambah
dari tahun ke tahun. Kemiskinan terus merebak bagaikan jamur yang tumbuh subur ditengah
musim hujan, hak akan politik semakin dikebiri, wacana demokrasi palsu yang diumbar-umbar
hanya menjadi hiasan kosong untuk membungkus watak fasis rezim boneka sebagai
wujud aslinya, kebodahan dan kehancuran moral rakyat juga terus mewabah dan
siap menumbalkan konflik berdarah terhadap sesama rakyat. Skema monopoli yang
dijalankan imperialisme dengan watak exploitatif, expansif, dan akumulatifnya
telah menyebabkan kehancuran kehidupan rakyat semakin bertambah setiap waktu.
Krisis
yang melanda imperialisme saat ini sebagai kemutlakan zaman atas skema
monopolinya telah menjadikan dirinya semakin agresif dalam merampas segala hal
yang dimiliki oleh rakyat. Seluruh negara di dunia dipaksa tunduk dan patuh
dengan kehendak mereka. Intervensi imperialisme terhadap berbagai negera
jajahan maupun setengah jajahan semakin dikuatkan dengan rantai darah
penghisapannya. Indonesia sebagai negara setengah jajahan setengah feodal juga
tak luput atas agresifitas imperialisme dibawah dominasi AS, bahkan lebih
menyakitkan dengan ketersediaan berbagai faktor kekayaan yang terkandung di
dalamnya, Indonesia dijadikan sebagai negara topangan atas krisis yang terjadi
di tubuh imperialis. Sumber daya alam
yang berlimpah ruah serta populasi masyarakat yang begitu besar menjadi faktor
penentu atas kepentingan para negara imperialis untuk meraup keuntungan dan menyelamatkan
krisisnya dengan memamfaatkan eksploitasi bahan-bahan mentah yang ada di
Indonesia, tenaga kerja murah yang digunakan di berbagai industrinya di dalam
negeri, pemasaran hasil produksi industrinya, serta ekspor kapital dengan
perjanjian timpang dan bunga utang yang begitu besar sehingga menyebabkan
rakyat Indonesia semakin kehilangan kedaulatan atas tanah dan wilayahnya
sendiri. Rezim boneka dan para kaum komparador menjadikan rakyat Indonesia
harus menanggung beban berat atas krisis dunia dibawah sistem imperialisme.
Imperialisme
Kian Kropos
Krisis
hebat yang melanda imperialisme sejak tahun 2008 silam. Dimana krisis tersebut
muncul tidak lain dikarenakan corak ekonomi monopoli imperialisme yang telah
usang sehingga mengakibatkan overproduksi barang-barang industri berteknologi
tinggi khususnya persenjataan dan barang-barang elektronik serta kredit rumah
macet (sub prime morgage) menjadi gucangan hebat terhadap berbagai korporasi
besar milik kaum pengusaha besar atau borjuasi besar dunia dalam menjalankan
praktek monopoli kapital di seluruh dunia. Faktanya beberapa negara Uni Eropa
seperti Yunani, Spanyol, Perancis, Italia dimulai sejak awal tahun 2013 terus
mengalami resesi ekonomi sampai ketitik minus 10% dari PDB negaranya. Bahkan AS
sendiri sebagai pimpinan tunggal imperialisme juga tak luput dari krisis
ekonomi dunia. Buktinya sekitar beberapa bulan yang lalu parlemen pemerintahan
AS mengalami pedebatan hebat tentang alokasi dana subsidi publik pemerintahan
yang berujung pemberhentian aktivitas pemerintahannya selama lebih kurang 21 hari
(Goverment Shutdown)
Dari
tahun ke tahun, krisis imperialisme semakin bertambah parah. Hal inilah yang
menyebabkan agresifitas para kaum borjuasi besar dunia serta kaki tangannya
(komparador) di seluruh negeri menjadi semakin hebat. Praktek fasisme sebagai
bagian dari watak asli mereka juga selalu ditunjukkan, tidak hanya fasisme
tertutup bahkan fasisme terbuka juga dijalankan demi memenuhi kerakusan atas
segala kekayaan yang ada di dunia. Konflik berdarah yang tak kunjung selesai di
berbagai daratan timur tengah dan asia seperti Mesir, Lebanon, Palestina,
Suriah, Libia, dan lain-lain tidak lain dipengaruhi oleh teror dan rongrongan
intervensi AS beserta kroni-kroninya yang bertopeng sebagai negara penjaga
perdamaian dunia atau sebagai negara dewan keamanan PBB untuk menjadikan
seluruh negara tunduk atas kepentingannya dalam menguras habis segala kekayaan
minyak mentah, tambang, pertanian, dan lain-lain. Sementara itu, skema – skema
perundingan perdagangan palsu dan timpang juga turut dicanangkan dan diintesifkan
di berbagai teritori dunia seperti APEC, AFTA, CAFTA, ASEM, MDGS, WTO, dan
masih banyak lagi. Seluruh forum tersebut hanya merupakan skema palsu untuk
semakin mewujudkan perdagangan bebas tanpa batas bahkan tidak hanya perdagangan
barang komoditas industri saja tetapi
sektor jasa juga menjadi bagian dari liberalisasi perdagangan seperti
pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, pengetahuan, dan lain-lain. Kesemuanya
jelas hanya menguntungkan negara-negara imperialis dibawah dominasi AS semata
dan tidak pernah sama sekali memperdulikan negara-negara miskin dan berkembang
sehingga keadilan sosial, kebebasan hak hidup rakyat, bahkan hukum yang
mengatur kesejahteraan perekonomian setiap bangsa semakin dikangkangi.
Indonesia
sebagai negara yang berlimpah ruah akan kekayaan alam dan sumber daya
manusianya juga tidak luput dari hantaman keculasan para negara imperialis.
Bahkan lebih ironis, Indonesia dijadikan sebagai negara topangan atas krisis
dunia yang sedang terjadi saat ini. Hal ini terbukti dari pernyataan SBY dalam
pertemuan G20 di Rio Mexico sekitar tahun 2011 silam yang menyatakan bahwa
krisis dunia saat ini menjadi tanggung jawab bersama khususnya Indonesia dalam
menyelesaikan krisis akut tersebut. Selain itu, hal tersebut juga dibuktikan
dalam 1 tahun terakhir ini, dimana
dimulai sejak awal tahun 2013 berbagai forum pertemuan tentang kerja
sama ekonomi dan perdagangan skala benua
bahkan dunia berturut-turut diselenggarakan di Indonesia. Pertemuan KTT APEC
(Asia Pasicif Economic Coorperation) yang dimulai sejak bulan januari 2013 di
beberapa provinsi yakni Bali, Jakarta, Medan dengan 3 pembahasan utama yaitu
pengembangan konektifitas infrastruktur perdagangan, pengembangan investasi
ekonomi, dan pencapaian Bogor Goals. Pertemuan MDGs di Jakarta pada bulan april
yang membahas tentang rencana bersama pengembangan negara berkembangan menuju
tahun 2020. Pertemuan tahunan RSPO (Roundtable Sustanable Palm Oil) pada bulan
november dimana Indonesia menjadi tuan rumah dan kota Medan terpilih menjadi
kota penyelenggara. Selanjutnya di akhir tahun pada 2 – 6 Desember, Indonesia
bahkan menjadi tuan rumah KTM 9 WTO (World Trade Organization). Forum yang
selalu mendapat penentangan dan kecaman keras dari segala elemen rakyat dunia
dalam pertemuannya membahas liberalisasi perdagangan dunia turut di laksanakan
di Nusa Dua Bali Indonesia, dengan 3 point pembahasan utama yaitu pembahasan
subsidi atas pertanian (Agreement of Agricultur), pengembangan infrastruktur
perdagangan (Trade Facilitation), dan proposal bantuan negara miskin (Least
Development Countrys). Kesemua pertemuan tersebut tidak lain hanya merupakan kepentingan
para kaum borjuasi besar dunia melalui ketertundukkan negara dan skema kerja
sama antar negara. Intensitas kerja sama dan tindakan agresi terbuka yang di
komandoi oleh AS secara sejatinya telah menunjukkan kepada seluruh rakyat dunia
bahwa kemutlakan krisis di tubuh imperialisme semakin parah.
Pendidikan Semakin Diliberalisasi
Kerakusan
dan ketamakan imperialisme akan kekayaan terlebih ditengah krisis parah saat
ini tidak hanya menyebabkan kemerosotan penghidupan ekonomi rakyat Indonesia
saja. Namun selain itu, bangunan kebudayaan juga semakin diarahkan ke arah yang
sesuai dengan kepentingan para kaum borjuasi besar dunia atas kapitalnya. Hal
ini menjadi hubungan yang erat atas penghisapan yang terjadi saat ini, agar
perubahan kondisi rakyat terus dihambat dengan propaganda dan pendidikan yang
sempit dan terbelakang dari berbagai alat kebudayaan yang dikonsolidasikan oleh
mereka baik sekolah, kampus, media elektronik maupun cetak, promosi gaya hidup dan lain-lain.
Selain
itu, berbagai penandatanganan kerjasama multilateral atas kepentingan
imperialisme terhadap sektor jasa pendidikan juga semakin diintensifkan
sehingga manifestasi pelaksanaann pendidikan di Indonesia semakin nyata wujud
liberalisasinya. Pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah
dalam pelaksanaannya serta seluruh rakyat mempunyai hak yang sama terhadap
akses pendidikan hanya menjadi hiasan pemerintahan belaka saja tanpa ada
implementasi. Rakyat harus menanggung
beban biaya pendidikan secara sendiri ditengah keadaan ekonomi yang semakin
porak poranda saat ini. Sehingga mengakibatkan angka populasi rakyat Indonesia
yang pernah mengenyam pendidikan semakin menurun. Kebodohan dan kemiskinan
menjadi ancaman nyata bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya para pemuda.
Rakyat
Indonesia semakin terbatas aksesnya untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi.
Semenjak UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi di legitimasi pada tahun
2012 silam, pelaksanaan pendidikan tinggi di Indonesia semakin menunjukkan
bahwa keberlangsungan pendidikan tidak lagi sebagai alat untuk mencerdaskan
bangsa dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tengah-tengah masyarakat.
Biaya pendidikan tinggi yang terus meroket, kualitas pendidikan yang semakin
buruk, serta orientasi proses pendidikan semakin tahun yang tidak menunjukkan
kepada pembangunan bangsa melainkan hanya sebagai alat bisnis bagi para pemodal
semata. Beranjak dari UU-PT yang telah disahkan, pada tahun 2013 secara serta
merta Kemendikbud mengeluarkan Permen tentang pembiayaan perkuliahan atau Uang
Kuliah Tunggal. Pada esensinya aturan pembiyaan perkuliaah UKT tersebut
hanyalah merupakan mekanisme pelepasan secara bertahap pembiyaan proses
pendidikan tinggi oleh pemerintah, yang kemudian segala beban biaya pendidikan
tinggi dibebankan sepenuhnya kepada rakyat. Ironisnya mekanisme perhitungan
beban biaya perkuliahan ini, akan disesuaikan dengan indeks kemahalan harga
barang sehingga artinya biaya perkuliahan akan semakin naik setiap tahunnya
mengikuti kenaikan harga barang (inflasi) yang terjadi setiap tahun.
Liberalisasi
pendidikan akan semakin nyata dan eksis dalam keberlangsungan kehidupan rakyat
Indonesia, ditengah krisis imperialisme yang semakin kronis dari tahun ke
tahun. Kehancuran masa depan pemuda dan kemerosotan rakyat Indonesia bahkan
dunia akan terus menjadi dampak dari eksistensi sistem ekonomi monopoli dunia
yang tidak mengenal keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Pada
penghujung tahun 2013 ini, ditengah ancaman kemerosotan kehidupan rakyat baik
dari segi ekonomi, politik, dan kebudayaan sebagai akibat dari semakin
agresifnya imperialisme dalam menguras dan menghisap segala hal kehidupan
rakyat. Maka suatu kewajiban dan tanggung jawab besar bagi seluruh pemuda
mahasiswa untuk terus semakin bersatu serta mengabdikan pikiran dan tindakannya
dalam perjuangan seluruh rakyat Indonesia dari berbagai elemen kaum tani, kaum
buruh, kaum perempuan progresif, kaum miskin kota, kaum marjinal, dan
sebagainya demi menghancurkan para musuh rakyat.
Hidup
Mahasiswa !!!
Hidup
Rakyat !!!
Fight
Imperialism, Feodalism, Kapitalism Birokrat !!!
Front
Mahasiswa Nasional (FMN)
Ranting USU


