Selasa, 31 Desember 2013

SELAMAT TAHUN BARU 2014





REFLEKSIFITAS AKHIR TAHUN 2013
“Ditengah krisis imperialisme yang semakin kronis, pemuda mahasiswa terus menggalang persatuan serta memperbesar perlawanan terhadap imperialisme, feodalisme, kapitalis birokrat menuju perubahan sejati rakyat”

Lembaran tahun 2013 tidak lama lagi akan berakhir, berikutnya tahun 2014 akan segera menanti dengan segala aspek keberlangsungannya. Penantian rakyat untuk mengakhiri kesusahan dalam hidupnya juga terus bernaung tanpa henti di setiap waktu perjalanannya. Eksistensi imperialisme yang masih terus bercokol dalam menguasai seluruh segi kehidupan rakyat dan terus mempertahankan corak ekonomi terbelakang feodalisme serta menciptakan dan melanggengkan para kaki tangannya di pemerintahan dalam negeri telah menjadi musuh besar bagi rakyat dari tahun ke tahun untuk segera dihancurkan dari ibu pertiwi.
Tahun 2013 merupakan tahun yang menjadi moment penting bagi seluruh rakyat di seluruh negeri tak terkecuali rakyat Indonesia. Di tahun yang akan segera berakhir ini, telah banyak memberikan pelajaran dan pemahaman terhadap rakyat akan wujud musuhnya dan berbagai skema yang akan dan sedang dijalankannya. Hal ini sangat berarti bagi gerak perubahan atas masa depan rakyat, dengan mengerti dan memahami atas penghisapan dan penindasan atas dirinya, rakyat terus menyatukan pandangan dan kekuatan semakin besar dan kuat setahap demi setahap guna merobohkan bangunan usang imperialisme, feodalisme, dan kapitalis birokrat yang menciptakan sistem penghisapan setengah jajahan setengah feodal. Sementara itu, kemerosotan atas ekonomi, politik, dan kebudayaan rakyat juga semakin bertambah dari tahun ke tahun. Kemiskinan terus merebak bagaikan jamur yang tumbuh subur ditengah musim hujan, hak akan politik semakin dikebiri, wacana demokrasi palsu yang diumbar-umbar hanya menjadi hiasan kosong untuk membungkus watak fasis rezim boneka sebagai wujud aslinya, kebodahan dan kehancuran moral rakyat juga terus mewabah dan siap menumbalkan konflik berdarah terhadap sesama rakyat. Skema monopoli yang dijalankan imperialisme dengan watak exploitatif, expansif, dan akumulatifnya telah menyebabkan kehancuran kehidupan rakyat semakin bertambah setiap waktu.
Krisis yang melanda imperialisme saat ini sebagai kemutlakan zaman atas skema monopolinya telah menjadikan dirinya semakin agresif dalam merampas segala hal yang dimiliki oleh rakyat. Seluruh negara di dunia dipaksa tunduk dan patuh dengan kehendak mereka. Intervensi imperialisme terhadap berbagai negera jajahan maupun setengah jajahan semakin dikuatkan dengan rantai darah penghisapannya. Indonesia sebagai negara setengah jajahan setengah feodal juga tak luput atas agresifitas imperialisme dibawah dominasi AS, bahkan lebih menyakitkan dengan ketersediaan berbagai faktor kekayaan yang terkandung di dalamnya, Indonesia dijadikan sebagai negara topangan atas krisis yang terjadi di tubuh imperialis.  Sumber daya alam yang berlimpah ruah serta populasi masyarakat yang begitu besar menjadi faktor penentu atas kepentingan para negara imperialis untuk meraup keuntungan dan menyelamatkan krisisnya dengan memamfaatkan eksploitasi bahan-bahan mentah yang ada di Indonesia, tenaga kerja murah yang digunakan di berbagai industrinya di dalam negeri, pemasaran hasil produksi industrinya, serta ekspor kapital dengan perjanjian timpang dan bunga utang yang begitu besar sehingga menyebabkan rakyat Indonesia semakin kehilangan kedaulatan atas tanah dan wilayahnya sendiri. Rezim boneka dan para kaum komparador menjadikan rakyat Indonesia harus menanggung beban berat atas krisis dunia dibawah sistem imperialisme.
Imperialisme Kian Kropos  
Krisis hebat yang melanda imperialisme sejak tahun 2008 silam. Dimana krisis tersebut muncul tidak lain dikarenakan corak ekonomi monopoli imperialisme yang telah usang sehingga mengakibatkan overproduksi barang-barang industri berteknologi tinggi khususnya persenjataan dan barang-barang elektronik serta kredit rumah macet (sub prime morgage) menjadi gucangan hebat terhadap berbagai korporasi besar milik kaum pengusaha besar atau borjuasi besar dunia dalam menjalankan praktek monopoli kapital di seluruh dunia. Faktanya beberapa negara Uni Eropa seperti Yunani, Spanyol, Perancis, Italia dimulai sejak awal tahun 2013 terus mengalami resesi ekonomi sampai ketitik minus 10% dari PDB negaranya. Bahkan AS sendiri sebagai pimpinan tunggal imperialisme juga tak luput dari krisis ekonomi dunia. Buktinya sekitar beberapa bulan yang lalu parlemen pemerintahan AS mengalami pedebatan hebat tentang alokasi dana subsidi publik pemerintahan yang berujung pemberhentian aktivitas pemerintahannya selama lebih kurang 21 hari (Goverment Shutdown)
Dari tahun ke tahun, krisis imperialisme semakin bertambah parah. Hal inilah yang menyebabkan agresifitas para kaum borjuasi besar dunia serta kaki tangannya (komparador) di seluruh negeri menjadi semakin hebat. Praktek fasisme sebagai bagian dari watak asli mereka juga selalu ditunjukkan, tidak hanya fasisme tertutup bahkan fasisme terbuka juga dijalankan demi memenuhi kerakusan atas segala kekayaan yang ada di dunia. Konflik berdarah yang tak kunjung selesai di berbagai daratan timur tengah dan asia seperti Mesir, Lebanon, Palestina, Suriah, Libia, dan lain-lain tidak lain dipengaruhi oleh teror dan rongrongan intervensi AS beserta kroni-kroninya yang bertopeng sebagai negara penjaga perdamaian dunia atau sebagai negara dewan keamanan PBB untuk menjadikan seluruh negara tunduk atas kepentingannya dalam menguras habis segala kekayaan minyak mentah, tambang, pertanian, dan lain-lain. Sementara itu, skema – skema perundingan perdagangan palsu dan timpang juga turut dicanangkan dan diintesifkan di berbagai teritori dunia seperti APEC, AFTA, CAFTA, ASEM, MDGS, WTO, dan masih banyak lagi. Seluruh forum tersebut hanya merupakan skema palsu untuk semakin mewujudkan perdagangan bebas tanpa batas bahkan tidak hanya perdagangan barang komoditas industri  saja tetapi sektor jasa juga menjadi bagian dari liberalisasi perdagangan seperti pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, pengetahuan, dan lain-lain. Kesemuanya jelas hanya menguntungkan negara-negara imperialis dibawah dominasi AS semata dan tidak pernah sama sekali memperdulikan negara-negara miskin dan berkembang sehingga keadilan sosial, kebebasan hak hidup rakyat, bahkan hukum yang mengatur kesejahteraan perekonomian setiap bangsa semakin dikangkangi.
Indonesia sebagai negara yang berlimpah ruah akan kekayaan alam dan sumber daya manusianya juga tidak luput dari hantaman keculasan para negara imperialis. Bahkan lebih ironis, Indonesia dijadikan sebagai negara topangan atas krisis dunia yang sedang terjadi saat ini. Hal ini terbukti dari pernyataan SBY dalam pertemuan G20 di Rio Mexico sekitar tahun 2011 silam yang menyatakan bahwa krisis dunia saat ini menjadi tanggung jawab bersama khususnya Indonesia dalam menyelesaikan krisis akut tersebut. Selain itu, hal tersebut juga dibuktikan dalam 1 tahun terakhir ini, dimana  dimulai sejak awal tahun 2013 berbagai forum pertemuan tentang kerja sama ekonomi dan perdagangan  skala benua bahkan dunia berturut-turut diselenggarakan di Indonesia. Pertemuan KTT APEC (Asia Pasicif Economic Coorperation) yang dimulai sejak bulan januari 2013 di beberapa provinsi yakni Bali, Jakarta, Medan dengan 3 pembahasan utama yaitu pengembangan konektifitas infrastruktur perdagangan, pengembangan investasi ekonomi, dan pencapaian Bogor Goals. Pertemuan MDGs di Jakarta pada bulan april yang membahas tentang rencana bersama pengembangan negara berkembangan menuju tahun 2020. Pertemuan tahunan RSPO (Roundtable Sustanable Palm Oil) pada bulan november dimana Indonesia menjadi tuan rumah dan kota Medan terpilih menjadi kota penyelenggara. Selanjutnya di akhir tahun pada 2 – 6 Desember, Indonesia bahkan menjadi tuan rumah KTM 9 WTO (World Trade Organization). Forum yang selalu mendapat penentangan dan kecaman keras dari segala elemen rakyat dunia dalam pertemuannya membahas liberalisasi perdagangan dunia turut di laksanakan di Nusa Dua Bali Indonesia, dengan 3 point pembahasan utama yaitu pembahasan subsidi atas pertanian (Agreement of Agricultur), pengembangan infrastruktur perdagangan (Trade Facilitation), dan proposal bantuan negara miskin (Least Development Countrys). Kesemua pertemuan tersebut tidak lain hanya merupakan kepentingan para kaum borjuasi besar dunia melalui ketertundukkan negara dan skema kerja sama antar negara. Intensitas kerja sama dan tindakan agresi terbuka yang di komandoi oleh AS secara sejatinya telah menunjukkan kepada seluruh rakyat dunia bahwa kemutlakan krisis di tubuh imperialisme semakin parah.

Pendidikan Semakin Diliberalisasi
Kerakusan dan ketamakan imperialisme akan kekayaan terlebih ditengah krisis parah saat ini tidak hanya menyebabkan kemerosotan penghidupan ekonomi rakyat Indonesia saja. Namun selain itu, bangunan kebudayaan juga semakin diarahkan ke arah yang sesuai dengan kepentingan para kaum borjuasi besar dunia atas kapitalnya. Hal ini menjadi hubungan yang erat atas penghisapan yang terjadi saat ini, agar perubahan kondisi rakyat terus dihambat dengan propaganda dan pendidikan yang sempit dan terbelakang dari berbagai alat kebudayaan yang dikonsolidasikan oleh mereka baik sekolah, kampus, media elektronik maupun cetak,  promosi gaya hidup dan lain-lain.
Selain itu, berbagai penandatanganan kerjasama multilateral atas kepentingan imperialisme terhadap sektor jasa pendidikan juga semakin diintensifkan sehingga manifestasi pelaksanaann pendidikan di Indonesia semakin nyata wujud liberalisasinya. Pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam pelaksanaannya serta seluruh rakyat mempunyai hak yang sama terhadap akses pendidikan hanya menjadi hiasan pemerintahan belaka saja tanpa ada implementasi.  Rakyat harus menanggung beban biaya pendidikan secara sendiri ditengah keadaan ekonomi yang semakin porak poranda saat ini. Sehingga mengakibatkan angka populasi rakyat Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan semakin menurun. Kebodohan dan kemiskinan menjadi ancaman nyata bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya para pemuda.
Rakyat Indonesia semakin terbatas aksesnya untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi. Semenjak UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi di legitimasi pada tahun 2012 silam, pelaksanaan pendidikan tinggi di Indonesia semakin menunjukkan bahwa keberlangsungan pendidikan tidak lagi sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tengah-tengah masyarakat. Biaya pendidikan tinggi yang terus meroket, kualitas pendidikan yang semakin buruk, serta orientasi proses pendidikan semakin tahun yang tidak menunjukkan kepada pembangunan bangsa melainkan hanya sebagai alat bisnis bagi para pemodal semata. Beranjak dari UU-PT yang telah disahkan, pada tahun 2013 secara serta merta Kemendikbud mengeluarkan Permen tentang pembiayaan perkuliahan atau Uang Kuliah Tunggal. Pada esensinya aturan pembiyaan perkuliaah UKT tersebut hanyalah merupakan mekanisme pelepasan secara bertahap pembiyaan proses pendidikan tinggi oleh pemerintah, yang kemudian segala beban biaya pendidikan tinggi dibebankan sepenuhnya kepada rakyat. Ironisnya mekanisme perhitungan beban biaya perkuliahan ini, akan disesuaikan dengan indeks kemahalan harga barang sehingga artinya biaya perkuliahan akan semakin naik setiap tahunnya mengikuti kenaikan harga barang (inflasi) yang terjadi setiap tahun.
Liberalisasi pendidikan akan semakin nyata dan eksis dalam keberlangsungan kehidupan rakyat Indonesia, ditengah krisis imperialisme yang semakin kronis dari tahun ke tahun. Kehancuran masa depan pemuda dan kemerosotan rakyat Indonesia bahkan dunia akan terus menjadi dampak dari eksistensi sistem ekonomi monopoli dunia yang tidak mengenal keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Pada penghujung tahun 2013 ini, ditengah ancaman kemerosotan kehidupan rakyat baik dari segi ekonomi, politik, dan kebudayaan sebagai akibat dari semakin agresifnya imperialisme dalam menguras dan menghisap segala hal kehidupan rakyat. Maka suatu kewajiban dan tanggung jawab besar bagi seluruh pemuda mahasiswa untuk terus semakin bersatu serta mengabdikan pikiran dan tindakannya dalam perjuangan seluruh rakyat Indonesia dari berbagai elemen kaum tani, kaum buruh, kaum perempuan progresif, kaum miskin kota, kaum marjinal, dan sebagainya demi menghancurkan para musuh rakyat.
Hidup Mahasiswa !!!
Hidup Rakyat !!!
Fight Imperialism, Feodalism, Kapitalism Birokrat !!!

Front Mahasiswa Nasional (FMN)
 Ranting USU



Tidak ada komentar:

Posting Komentar