KEPENTINGAN
JAHAT IMPERIALISME DI BALIK APEC
13 Agustus 2013 pukul 16:28
“Krisis
dunia yang berkepanjangan di tubuh imperialis, sejak tahun 2008 sampai saat ini
telah menjadi sangat akut dan kronis, memaksa mereka untuk lebih
mengintensifkan dan memasifkan penghisapan atas rakyat di negara-negara jajahan
maupun setengah jajahan-setengah feodal demi menjaga sistem monopoli ekonominya
agar tetap mencengkram dunia dengan cara memaksa dan merangkul setiap negara
hijau agar duduk dan tunduk dalam skema jahat dan palsu organisasi-organisasi
internasional buatan imperialis, salah satunya yaitu Asia Pasific
Economy Coorperation (APEC)”
Pada tahun 1989 melalui inisiatif
negara-negara imperialisme di wilayah asia dan pasific seperti AS, China,
Rusia, Australia, dan Kanada, mendeklarasikan sebuah organisasi kerja sama
ekonomi dan perdagangan di wilayah asia dan pasific yaitu Asia Pasific Economic
Coorperation. Organisasi yang beranggotakan 21 negara asia dan pasific ini
merupakan forum kerja sama berbagai negara di bidang ekonomi, perdagangan dan
investasi. Sampai saat ini, APEC telah berhasil melaksanakan 20 kali pertemuan
tingkat tinggi atau KTT APEC di berbagai negara anggotanya. Namun pada tahun
1994 di bogor merupakan catatan penting dalam perjalanannya, melalui pertemuan
21 anggota APEC telah menyetujui target pencapaian dalam kerja sama perdagangan
dan investasi atau yang lebih dikenal sebagaiBogor Goals. Sehingga
kemudian kesepakatan tersebut menjadi mainset setiap negara termasuk Indonesia
untuk dapat menjalankan sistem ekonomi liberal.
Ditinjau dari segi demografis, APEC
merupakan organisasi yang besar karena menaungi penduduk sekitar 2,7 milyar
jiwa. Empat belas dari 21 Ekonomi Anggota APEC merupakan 40 Ekonomi pengekspor
terbesar di dunia, sementara sembilan anggota APEC tercatat sebagai anggota
G20. Selain itu, setiap tahun Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan, Menteri
Keuangan dan Menteri-Menteri lain hadir dalam pertemuan-pertemuan APEC.
Kehadiran para Pemimpin dan Menteri APEC tersebut selama ini juga dimanfaatkan
sebagai kesempatan untuk melakukan pembahasan masalah-masalah bilateral dan
regional. Para pimpinan negara tergabung dalam leadership APEC yang menjalankan
rapat setiap 1 tahun sekali. Rapat tahunan APEC merupakan hasil dari penilaian
dari Senior Oficial Meeting (SOM) yang kemudian dijadikan bahan untuk
merumuskan kebijakan APEC oleh leadership.
Sampai saat ini APEC telah berperan
penting dalam setiap agenda perdagangan multilateral. Di tahun 1994, APEC
memberikan kontribusi signifikan bagi terselesaikannya Putaran Uruguay di bawah
perundingan General
Agreement on Tariffs and Trade (GATT)
serta berhasil menyepakati target kerja sama ekonomi dan perdagangan bersama
seluruh anggota APEC yang termanifestasi dalam Bogor Goals. Keberhasilan ini telah mendorong terbentuknya
organisasi perdagangan dunia WTO. Kini, forum kerja sama APEC dipandang sebagai
salah satu arena kunci guna mendorong terselesaikannya Putaran Doha.
Mekanisme kerja APEC bermuara pada para
Pemimpin Ekonomi APEC yang melakukan pertemuan setahun sekali dalam APEC Economic Leaders’ Meeting (AELM). Di bawah itu, para Menteri Luar Negeri dan
Menteri Perdagangan APEC berkoordinasi dalam APEC Ministerial Meeting (AMM) menggariskan arah kerja sama kawasan. Hasil
kesepakatan para Pemimpin Ekonomi dan Menteri APEC tersebut selanjutnya
diterjemahkan oleh para Pejabat Tinggi (Senior Officials)
APEC untuk dilaksanakan oleh para pengambil kebijakan dan kelompok ahli
masing-masing Ekonomi yang bertemu dalam berbagai Komite dan Kelompok Kerja di
APEC. Di sisi lain para pengusaha-pengusaha monopoli besar diberbagai negara
anggota APEC ikut serta dalam menentukan kebijakan-kebijakan sektoral APEC
khususnya dibidang usaha dan bisnis. Hal ini terlihat dengan adanya APEC
Bussines Advisory Council (ABAC) yang beranggotakan 6 orang dari setiap negara,
terdaftar dalam struktur organisasi APEC langsung dibawah AELM.
Di tahun 2013 ini, Indonesia menjadi kepanitian
dan keketuaan pertemuan tahunan APEC atau KTT APEC ke 21 yang diselenggarakan
mulai bulan Desember 2012-Oktober 2013 di beberapa kota di Indonesia seperti
Jakarta, Surabaya, Manado, Medan, Bali. Keinginan yang kuat dari pemerintah
Indonesia untuk dapat menjamu para tamu luar negerinya, disikapi langsung oleh
Presiden SBY melalui Keppres No. 22/2012 tentang Panitia Nasional Penyelenggara
Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation XXI tahun 2013.
Bahkan untuk memaksimalkan rangkaian kegiatan KTT APEC ke 21 di Indonesia,
Presiden langsung menunjuk para kabinet menteri serta para kepala aparat
keamanan Indonesia seperti Panglima TNI dan Kapolri untuk menjadi panitia demi
terselenggaranya pertemuan tersebut.
Dalam rangkaian pertemuan KTT APEC tahun
2013 ini, Indonesia telah menyiapkan 12 sektor kerja sama yang akan
dipromosikan dalam pertemuan awal APEC di Senior Meeting Office mulai bulan
Januari-Juli 2013 di 3 kota besar di Indonesia (Jakarta-Surabaya-Medan). 12
sektor tersebut adalah (1) mendukung sistem perdagangan multilateral
dengan memastikan tercapainya hasil konkrit pada pertemuan tingkat Menteri WTO
di Bali pada bulan Desember 2013; (2) pengembangan konektivitas Indonesia; (3)
pembangunan dan investasi infrastruktur; (4) peningkatan daya saing global
untuk sektor UMKM dan perempuan; (5) peningkatan kesejahteraan petani; (6)
pengembangan model sistem kesehatan yang berkelanjutan; (7) mengarusutamakan
isu-isu kelautan; (8) pengembangan produk berbasis pertanian untuk mendukung upaya
pengurangan kemiskinan; (9) memfasilitasi kesiaptanggapan personel bencana
alam; (10) mendorong kerja sama pendidikan lintas batas; (11) mendorong
fasilitasi perjalanan untuk wisatawan; (12) dan hal-hal lain berkaitan dengan
pengembangan kapasitas Indonesia dalam perdagangan internasional serta
memastikan bahwa pasar internasional tetap terbuka bagi ekspor Indonesia. Pada
pertemuan SOM III di Medan tanggal 22 Juni – 6 Juli 2013 telah disepakati 18
sektor kerja sama dan 12 diantaranya adalah kesemua sektor yang dipromosikan
Indonesia diatas. Dan dipastikan 18 sektor tersebut akan di teruskan pada
pertemuan WTO bulan desember mendatang di Bali.
Kemudian apa sebenarnya mamfaat
organisasi APEC bagi seluruh rakyat Indonesia ?? Hal ini patut menjadi
perhatian kita bersama sebagai pihak yang menjadi objek dalam setiap
kerja sama multilateral negara.
Mamfaat
APEC ???
Ditengah krisis imperialisme yang
berkepanjangan sampai saat ini, sangat berdampak kepada turunnya indeks
perkembangan ekonomi di berbagai negara-negara imperialis. Bahkan di beberapa
negara Eropa seperti Yunani dan Cyprus telah terjadi krisis moneter akut yang
mengakibatkan negara tersebut coleps. Tingkat pengangguran terus meningkat
setiap tahun, diantaranya seperti Inggris, Jerman, dan Perancis angka
pengangguran meningkat sampai 7,89 % tahun 2012 . Sementara itu banyak rakyat
yang semakin hari semakin banyak turun ke jalan untuk menolak pemotongan dan
pencabutan subsidi-subsidi publik seperti pendidikan, kesehatan, jaminan
sosial, dll. Ini tidak lain dikarenakan oleh ketimpangan ekonomi yang
diciptakan oleh imperialisme telah menurunkan kemampuan ekonomi rakyat,
sehingga barang-barang yang setiap hari mereka hasilkan tidak mampu lagi
terserap oleh konsumen dan membusuk.
Untuk dapat keluar dari krisis
ekonominya, imperialisme semakin giat mencari cara demi menyelamatkan modal dan
sistem monopoli mereka. Oleh karena itu mereka terus mencari negara-negara
topangan yang dapat dijadikan lahan penyelamat dari krisis akut imperialisme.
Pemerintahan dalam negeri diciptakan menjadi penghamba kepada sistemnya agar
penghisapan mereka tetap aman dan terkendali. Dalam mengelabui rakyat atas
penghisapannya, imperialisme menciptakan berbagai lingkaran organisasi dalam
kedok kemanusiaan dan kesejahteraan manusia, namun esensinya adalah untuk dapat
lebih mengintensifkan dan memasifkan penghisapannya atas kehidupan rakyat. APEC
sebagai organisasi internasional buatannya, semakin digunakan untuk dapat
memonopoli pasar dan sumber daya alam di berbagai wilayah negara anggota demi
meraup keuntungan sebesar-besarnya guna menyehatkan kembali krisis yang terjadi
di tubuh imperialisme itu sendiri.
APEC adalah organisasi internasional
yang fokus dalam kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, serta investasi.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa sejak APEC pertama kali
dideklarasikan tahun 1989 sampai saat ini telah banyak berperan dalam hal
perdagangan yang mencakup dua poros bagian wilayah dunia Asia-Pasifik. Artinya
APEC secara prinsip mempercayai pembangunan ekonomi nasional dan dunia sangat
bergantung kepada perdagangan luas menembus batas setiap negara. Hal ini
terbukti dalam berbagai aturan-aturan yang telah disepakati dalam 4 prinsip
organisasi APEC, yang salah satunya adalah menekankan kepada setiap anggota
APEC untuk dapat memangkas setiap faktor penghambat alur perdagangan baik rill
maupun non rill. Bahkan APEC juga menegaskan dalam menuju ekonomi berkembang
dan maju haruslah terlebih dahulu menerapkan liberalisasi di setiap sektor
masyarakat.
Dengan prinsip ekonomi liberal maka
secara otomatis kegiatan ekonomi negara hanya terpusat terhadap
investor-investor dan pemodal-pemodal besar dalam dan luar negeri. Kegiatan
ekonomi rakyat secara mayoritas akan mengecil dan menjadikan keadaan sosial
ekonomi rakyat terus mengalami penurunan kian waktu. Akibatnya menciptakan
ketimpangan ekonomi yang signifikan dan terus mengalami peningkatan dari waktu
ke waktu. Data CEDS menunjukkan angka koefisien gini di Indonesia terus
meningkat dari tahun 1990 yaitu 0,29 dan di tahun 2002 menembus angka 0,59 dan
di 2010 terus meningkat. Hal yang paling dominan disebabkan oleh tersingkirnya
kegiatan ekonomi rakyat dari lahan produksinya seperti perampasan tanah oleh
perusahaan-perusahaan swasta dan negara, upah buruh yang semakin jauh dari standar
kelayakan, penggusuran pedagang kaki lima, serta menyempitnya lapangan
pekerjaan yang layak bagi rakyat.
Pemusatan atau pemonopolian lahan
produksi oleh segilitir pemodal (borjuasi nasional dan borjuasi besar
komperador) serta tuan tanah di dalam negeri terus semakin menggila mengingat
Indonesia yang bergabung dalam keaanggotaan APEC wajib mejalankan prinsip dalam
organisasi APEC yaitu menjadikan perdagangan makro dan investasi menjadi pilar
utama dalam pembangunan ekonomi berkembang di tahun 2010 dan ekonomi maju di
tahun 2020 (Bogor
Goals). Sehingga imperialisme dapat terus
meraup keuntungan melalui pengeksploitasian sumber daya alam (pertambangan,
energi, dan mineral), tenaga kerja murah, pemasaran yang menjanjikan mengingat
populasi Indonesia merupakan terbesar ke-4 di dunia. Untuk lebih memuluskan
penghisapannya, APEC di tahun 2004 semakin giat mengintervensi setiap kebijakan
pemerintah dalam hal reformasi struktutal birokrasi di bidang Undang-Undang,
tata kelola publik dan perusahaan, kebijakan persaingan dunia usaha, dan
penguatan infrastruktur hukum ekonomi. Hal tersebut jelas mengancam hak ekonomi
rakyat dimana pemodal asing dan dalam negeri akan semakin beringas mengambil
secara paksa lahan ekonomi rakyat baik upah, tanah, dan kerja.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan
sumber daya alamnya serta memiliki jumlah populasi yang cukup besar, menjadikan
negara ini sebagai tanah surga bagi perusahaan-perusahaan monopoli besar dunia
untuk dapat memamfaatkanya. Maka tak heran jika tahun 2013 ini pertemuan APEC
diselenggarakan di Indonesia, selain watak dari pemerintahannya yang tunduk
kepada kepentingan asing juga tersedianya berbagai potensi untuk kepentingan
penghisapan mereka. Sehingga rakyat terus semakin dijadikan korban atas
kesakitan dan kerakusan sistem imperialisme pimpinan AS.
Rakyat Indonesia semakin dijadikan tidak
produktif dengan pembatasan-pembatasan fasilitas dan modal oleh negara.
Kondisi ini sengaja diciptakan agar rakyat benar-benar menjadi konsumen aktif
atas barang-barang yang mereka produksi setiap harinya. Disisi lain keran
investasi asing terus dibuka lebar agar perusahaan-perusahaan besar mereka
dapat meraup keuntungan lebih dengan tenaga kerja murah di Indonesia serta
semakin banyaknya lahan ekonomi yang bisa dikuasai untuk dieksploitasi oleh
mereka.
Oleh karena itu APEC sebagai organisasi
perdangangan dan investasi internasional tidaklah merupakan organisasi yang
bertujuan untuk memajukan taraf ekonomi rakyat melainkan sengaja diciptakan
untuk menjadi poros dari skema penghisapan imperialisme atas rakyat
diberbagai negara jajahan dan setengah jajahan. Harapan kesejahteraan yang
mereka gembor-gemborkan adalah sebuah kebohongan besar untuk mengelabui segenap
rakyat Indonesia. Maka dari itu mari kita kampanyekan bersama bahwa organisasi
internasional APEC merupakan organisasi yang sama sekali tidak berguna untuk
mensejahterakan perekonomian rakyat saat ini. Malah sebaliknya organisasi ini
adalah ancaman besar bagi kehidupan rakyat Indonesia ditengah krisis ekonomi
yang semakin parah. JUNK
APEC!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar