Dasar perjuangan FMN
Sejarah
FMN
Front
Mahasiswa Nasional, organisasi yang sedang kita bangun, yang kini sedang
mengepakkan sayapnya dan bercita-cita menjadi organisasi alat perjuangan
mahasiswa, dibangun oleh historis yang panjang. Dalam organisasi kita, hanya
sedikit anggota yang mengetahui sejarah dialektika perjalanan FMN. Pengetahuan
tentang dialektika panjang FMN yang belum diketahui secara merata di organisasi
ini, menimbulkan tidak semua anggota mampu mencatat secara komprehensif
kelemahan-kelemahan dan kemajuan-kemajuan apa saja yang telah didapatkan oleh
FMN selama ini. Praktek yang selama ini sangat kaya dari FMN masih
berserak-serak, belum terkumpul secara sistematis menjadi sebuah catatan yang
komprehensif. Harapannya dengan sedikit paparan ini kita mampu berpikir
kongkrit dari materi yang kongkrit dalam praktek organisasi ke depannya.
Atas dorongan itulah, Pimpinan
Pusat FMN kembali mengumpulkan berbagai
catatan sejarah dalam bentuk apa pun untuk disajikan menjadi sebuah catatan
praktek berorganisasi dan berjuangnya para mahasiswa yang tergabung dalam FMN
sejak dulu. Dengan segala keterbatasan data, memori dan praktek, dengan segala
kerendahan hati, kami persembahkan untuk seluruh anggota FMN, tanpa
bermaksud mendongeng atau menggurui,
tapi untuk menjelaskan apa saja catatan
yang bisa diambil dari praktek perjuangan gerakan mahasiswa, khususnya FMN.
Yang positif tentu akan kita ambil, pertahankan, bahkan kita kembangkan. Yang
buruk kita buang jauh-jauh, dimengerti agar tidak terjadi untuk kedua kalinya.
Berusaha mengenalkan kepada anggota tentang materi yang sedang bergerak menuju
cita-citanya.
FMN,
dalam jejak langkahnya, pernah mengalami surut, stagnasi, sampai pasang.
Bagaimana FMN bergerak dalam fase demi fase, dan catatan apa saja yang bisa
kita ambil, marilah kita simak.
a.
Fase Membangun Embrio
Pergerakan Nasional (1995 -1997)
Akhir tahun 80-an, setelah kelompok studi tidak mampu
lagi menjadi wadah yang efektif untuk memperjuangkan kepentingan mahasiswa dan
melawan tirani rezim, para mahasiswa yang berpikir patriotis dan demokratis
kemudian mentransformasikan bentuk organisasinya dan berhimpun dalam wadah
serikat-serikat mahasiswa. Akhir tahun 80-an hingga awal tahun 90-an adalah masa
dimana serikat-serikat mahasiswa muncul sebagai alternatif bentuk organisasi
yang maju pada waktu itu.
Dalam skala nasional tercatat, beberapa organisasi
mahasiswa pernah terbentuk waktu itu, diantaranya adalah Front Aksi Mahasiswa
Indonesia (FAMI) dan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID),
yang muncul dengan identitas nasionalnya. Namun, umur kedua organsiasi ini
tidak bertahan lama seiring dengan dialektikanya. Di luar konsolidasi
organisasi nasional tersebut, masih banyak berserakan organisasi gerakan
mahasiswa tingkat lokal ataupun kampus. Organisasi yang berserakan dan di luar
konsolidasi FAMI dan SMID inilah, beberapa diantaranya kemudian membentuk
jaringan nasional pada tahun 1995. Jaringan nasional inilah yang merupakan
embrio dari terbentuknya pokja Forum Mahasiswa Nasional.
Di masa rezim otoriter Soeharto, serikat-serikat tersebut
semuanya menggunakan langgam kerja semi-legal, yaitu menggabungkan antara kerja
bawah tanah atau tertutup dengan kerja legal. Langgam ini dipandang cocok
dengan situasi obyektif rezim yang represif. Bekerja tidak hanya mengorganisir
mahasiswa, tapi juga sekaligus rakyat. Untuk perjuangan dan kampanye
terbukanya, dibentuklah komite-komite aksi. Komite-komite aksi mahasiswa
inilah, harus diakui, merekalah yang mengambil peranan memperjuangkan
kepentingan mahasiswa di kampus dan rakyat secara luas, bahkan menggulingkan
rezim otoriter Soeharto. Dapat kita lihat dengan letupan–letupan perjuangan
yang terjadi di beberapa daerah, seperti aksi anti kenaikan biaya angkot yang
berujung pada tewasnya 2 mahasiswa di Makassar tahun 1996, di Bandung dan
Jakarta aksi Golput pada pemilu 1997, aksi anti SDSB, aksi anti Suharto di
Jerman, dan berbagai aksi rakyat lainnya seperti pemogokkan buruh, anti
penggusuran, aksi solidaritas petani Kedung Ombo, dan lain sebagainya.
Di bawah bayang-bayang rezim militeristik Soeharto,
kemudian terbangun kesadaran akan pentingnya alat perjuangan mahasiswa berskala
nansional. Serikat–serikat mahasiswa di berbagai kota kemudian menjalin kontak
dan meningkatkan pembicaraan untuk membangun organisasi mahasiswa nasional.
Dimulai dari pertemuan–pertemuan informal, diskusi antara pimpinan serikat,
aksi bersama, dan serangkaian kegiataan bersama. Hingga pada akhirnya tahun
1997 lahirlah nama Forum Mahasiswa Nasional (FMN) sebagai identitas dari pokja
yang dibangun.
b.
Fase Menghimpun
Kekuatan untuk Berjaringan (1997-1998)
Tahun 1997 merupakan tahun bersejarah bagi FMN. Pada
tahun ini, di Bandung berkumpul perwakilan komite aksi mahasiswa dari lima
kota, yaitu dari Bandung, Yogyakarta, Malang, Jombang dan Surabaya.
Dari lima kota inilah, kemudian lahir kesepakatan untuk
membentuk sebuah jaringan nasional gerakan mahasiswa yang kemudian disebut
dengan Forum Mahasiswa Nasional (FMN). Ditunjuk Zulkarnaen atau yang akrab
dipanggil Ijul (dari Bandung) sebagai koordinator FMN. Program yang dibuat
waktu itu masih sebatas bagaimana membuat kurikulum pendidikan bersama,
komunikasi antar kota dalam hal pendidikan kader, serta mengajak komite aksi
dari kota lain untuk bergabung dalam FMN.
Tidak jarang kita mendengar pertanyaan dari anggota di
era sekarang, jaringan FMN sudah ada sejak tahun 1997 dengan berbasis
komite-komite aksi mahasiswa yang ikut ambil peranan aktif dalam penggulingan
rezim Otoriter Soeharto, namun mengapa FMN tidak muncul identitasnya atau
terlihat kepemimpinannya terhadap gerakan massa mahasiswa ketika itu. Seperti
dijelaskan diatas, FMN ketika itu secara
hakekat masih sebatas jaringan antar kota. Masih sebatas forum komunikasi.
Belum mempunyai kesamaan platform politik. Selain itu kepemimpinan organisasi
yang dibentuk (yang disebut Pokja FMN) belum secara efektif menjalankan
kepemimpinannya kepada kota-kota.
Kota-kota masih menggunakan platformnya sendiri-sendiri.
Masih menggunakan identitasnya sendiri-sendiri. Dengan demikian, meskipun
komite-komite aksi yang tergabung dalam jaringan FMN berperan aktif dalam
membuka keran demokratisasi di era Soeharto, namun harus diakui pula, FMN belum
tampil untuk memimpin gerakan massa mahasiswa Indonesia pada waktu itu.
Tahun 1998 Koordinator FMN diganti oleh Adul, perwakilan
dari Bandung. Usaha menarik kota-kota baru untuk bergabung dalam FMN terus
dilakukan. Hasilnya Serikat Mahasiswa Bandar Lampung (SMBL) tahun 1998 bergabung dalam FMN kemudian disusul dengan Forum
Komunikasi Mahasiswa Mataram (FKMM) kota
Mataram pada tahun 1999, Dan Front Mahasiswa untuk Kedaulatan Rakyat (FMKR)
Palembang tahun 2000 bergabung dalam FMN. Kita ucapkan salut untuk pokja
nasional waktu itu yang berhasil mengembangkan basis jaringan FMN.
c.
Fase Membagun Kesatuan
Pandangan dan Kemudian Pecah lagi (1999-2000)
Kota demi kota bergabung dalam FMN, dari hari-ke hari
semakin bertambah.
Namun oleh karena mekanisme organisasi yang tidak
memberikan saluran kritik secara terbuka atas praktek yang berbasis persatuan,
maka tahun 1999 FMN mengalami perpecahan di beberapa basis. SMBL yang bergabung
pada tahun 1998 mengundurkan diri pada tahun 1999. Di tahun yang sama Serikat
Mahasiswa untuk Kedaulatan Rakyat (SMKR) yang merupakan basis pokja FMN di
Yogyakarta mengalami perpecahan hingga berujung bubarnya SMKR. Perpecahan
juga diikuti oleh Forum Studi Ekonomi
politik (FORSTEP) Malang mengalami hal yang sama. Begitu juga dengan Komite
Mahasiswa untuk Perjuangan Rakyat (KMPR) Jombang, satu basis kampus
mengundurkan diri. Dan beberapa kader
Serikat Mahasiswa untuk Perjuangan Rakyat (SMPR) Surabaya mengundurkan diri.
Saluran mengkritik yang sangat kurang dan minimnya
keterbukaan, telah memunculkan kecurigaan-kecurigaan antar kader, antar basis
kampus, bahkan antar kota. Subyektifisme diutamakan dan persatuan organisasi
yang dilandasi untuk kepentingan perjuangan bersama di nomorduakan. Komunikasi
dan konsolidasi antar kota berjalan dengan lemah. Di masa inilah, FMN semakin
tidak nampak dalam dinamika gerakan mahasiswa. Dibilang hidup namun tidak
memperlihatkan gerakannya, dibilang mati pun tidak mau. Ini menjadi catatan penting untuk kita ke depan agar jangan
terjadi lagi dikemudian hari.
d.
Fase Membangun
Kembali Semangat Berorganisasi untuk Maju (2000-2002)
Keadaan organisasi yang mengalami kemunduran di tahun
1999, melahirkan refleksi di banyak kader. Keinginan untuk membangun organisasi
nasional tetap tertanam dalam diri kader di beberapa kota. Tanggal 31 Oktober
2001, di Bandung diadakan pertemuan pokja nasional FMN (Forum Mahasiswa
Nasional) yang dihadiri oleh tujuh kota, yaitu :
Lampung, Bandung, Yogyakarta, Solo, Jombang, Surabaya,
dan Malang. Palembang dan Mataram tidak dapat hadir dalam pertemuan ini. Dari
pertemuan ini ditunjuk Willy Aditya sebagai koordinator pokja FMN. Dari
sinilah, sekali lagi ditekankan tentang perlunya membangun kembali organisasi
skala nasional, setelah beberapa tahun mengalami stagnansi akibat perpecahan
dalam organisasi. Dalam pertemuannya mulai digagas kembali prasyarat organisasi
gerakan mahasiswa. Pertemuan ini selangkah lebih maju dari pertemuan-pertemuan
sebelumnya karena sudah mulai dirancang prasyarat kuantitas dan kualitas FMN
sebagai organisasi gerakan mahasiswa.
Tahun 2001, FMN mempunyai jaringan mahasiswa di Solo, Organisasinya bernama Merapi. Namun dalam perjalanannya
Merapi ini tidak berkembang, bahkan mengalami banyak kemunduran. Aktifitas
organisasinya tidak berjalan, hingga akhirnya Merapi bubar dengan sendirinya.
Masalah utamanya adalah, pertama, di intern Merapi sendiri, yaitu para
pemimpin organisasinya – karena
ada problem subjektif —
kurang mengkonsolidasikan pada kadernya. Kedua,
problem arahan set-up organisasi yang lemah waktu itu. Di satu sisi FMN
memberikan prasyarat kuantitas dan kualitas organisasi gerakan, namun disaat
yang sama FMN waktu itu kurang memberikan panduan bagaimana mencapai prasyarat
yang dimaksud, khususnya untuk basis baru yang belum punya tradisi membangun
organisasi gerakan mahasiswa, seperti Merapi Solo. Tahun 2001,
di Yogyakarta dibuat modul pendidikan pertama nasional untuk menset-up
organisasi. Modul pendidikan nasional dibuat secara bersama-sama untuk
menyamakan pemahaman tentang peran posisi mahasiswa, garis perjuangan, hingga
langgam pembangunan dan pengembangan organisasi di semua kota. Modul inilah
yang kemudian digunakan secara nasional, menyatukan pemahaman tentang
berorganisasi dan berjuang secara nasional.
Selanjutnya
di kota yang sama, pada November 2002, diadakan Workshop Pembangunan Organisasi
Nasional yang dihadiri oleh perwakilan-perwakilan kota FMN, yaitu Padang,
Palembang, Lampung, Bandung, Yogyakarta, Purwokerto, Malang, Surabaya, Jombang,
dan Mataram. Workshop diadakan di tengah keinginan yang semakin kuat untuk
membangun organisasi massa berskala nasional yang memiliki kepemimpinan dan
garis perjuangan yang tegas. Diadakan untuk menyampaikan kegelisahan dari
kader-kader di semua kota atas praktek berorganisasi dan berjuang yang telah
dijalankan. Di sinilah wacana mempersiapkan FMN menjadi sebuah organisasi massa
(ormas) berskala nasional, yang menjadi alat perjuangan legalnya mahasiswa
mengemuka. Selanjutnya, berpegang pada hasil workshop, sedikit demi sedikit
dilakukan penyamaan langgam kerja dan standar pembangunan organisasi. Hasil
workshop menjadi rujukan bagi pembangunan organisasi di kota-kota. Mulai tahun
2002 pula, pengenalan identitas Forum Mahasiswa Nasional di seluruh jaringan
kota-kota dilakukan. Pengenalan simbol dan identitas ini memang tidak terjadi
secara merata, namun secara bertahap dimulai dari organisasi tingkat Kota
dengan nama Komite Kota.
Tetapi,
ditengah semangat untuk merapatkan barisan dalam satu kepemimpinan, ternyata
ide-ide maju tersebut masih mendapatkan ganjalan. Di Bandung, terjadi
perpecahan organisasi tingkat kampus, yaitu KA-Unpad. Mereka yang memilih
berada dalam barisan maju FMN menyatakan keluar dan menyatakan membubarkan
KA-Unpad (walaupun tidak berhasil), dan sisanya adalah yang merasa bahwa
KA-Unpad adalah organisasi yang harus tetap eksis. Kasus ini tidaklah terlepas
dari campur tangan alumni yang merasa dengan adanya FMN maka kepentingannya
akan terganggu. Berbagai macam alasan dikemukakan diantaranya bahwa FMN
berideologi Marxisme-Leninisme, prinsip Sendem yang diterapkan adalah
Sentralisme “Diem-diem”, dan hubungan dengan Pemuda. Perpecahan ini
menyadarkan kita pada suatu teori, bahwa persatuan adalah relatif dan
perjuangan adalah mutlak!
e.
Fase Bersatu dalam Satu
Barisan (Mei-Desember 2003)
Kongres
Pendirian atau yang sering kita sebut dengan Founding Kongres FMN tanggal 18
Mei 2003, di Balai Rakyat Utan Kayu Jakarta adalah satu tonggak kemajuan
gagasan, dimana semangat perjuangan nasional mulai dipatri dalam diri
anggota-anggota FMN.
Tidak
ada lagi perjuangan yang bersifat lokalistik dan terpecah-pecah. Seluruh komponen
organisasi menyadari bahwasanya perjuangan nasional adalah kunci, dan bergabung
dalam organisasi berskala nasional adalah jawaban dari kebuntuan pergerakan
mahasiswa.
Inilah
sumbangsih terbesar Pengurus Komite Pusat FMN saat itu yang harus
dihargai. Kita angkat topi untuk
keberhasilan tersebut. Kolektif Komite Pusat FMN telah mengakhiri sekian banyak
konsolidasi organisasi menjadi satu klimaks, yaitu dideklarasikanya FMN sebagai
organisasi massa mahasiswa yang bersifat terbuka bagi seluruh massa mahasiswa
Indonesia. Terlepas dari proses yang dilakukan memang belum secara demokratis,
tapi kepeloporan ide dan kepemimpinan yang dibentuk waktu itu, mampu menangkap
satu keresahan dikalangan anggota. Sebanyak 700 anggota FMN dari berbagai kota
hadir dalam Kongres Pendirian organisasinya dan kemudian 740 orang anggota
mengikuti aksi Nasional perdana FMN di Jakarta, di tempat pimpinan pusatnya
berada. Seluruh tenaga, pikiran serta dana dicurahkan oleh seluruh anggota FMN.
Bahu-membahu dari hampir semua kota, mereka datang langsung untuk mewujudkan
satu keinginan membangun organisasi massa mahasiswa berskala nasional. Betapa
progresif dan patriotiknya anggota dan kesadaran yang bergelora mendapatkan
organisasi yang mereka tunggu.
Pada
Founding Kongres itulah, semua level organisasi dilebur dalam satu identitas
Front Mahasiswa Nasional, tidak ada lagi Forum Mahasiswa Nasional, tidak ada
lagi FMKR Palembang, SMBL di Lampung, FIM Bandung, KIBLAT Yogya, KMPR Jombang,
SMPR Surabaya, SAMUDRA Malang, maupun FKMM di Mataram. Semua menggunakan satu
identitas organisasi dan berada di bawah kepemimpinan yang sama, yaitu Komite
Pimpinan Pusat FMN.
Dideklarasikannya
FMN sebagai ormas skala nasional, berarti pula merubah bentuk organisasi serta
langgam organisasi. Tidak lagi menggunakan langgam semi legal seperti yang dulu
pernah digunakan. Hubungan mahasiswa dengan pemuda dalam “satu kamar” yang dulu
melekat pada langgam FMN mulai ditata dan dirapikan. Sudah tidak ada lagi
langgam “satu kamar” pemuda dan mahasiswa. Sejak Founding Kongres FMN, yang ada
adalah bertemunya program perjuangan FMN dengan organisasi yang lainnya, yaitu
program FMN untuk menarik dukungan dari sebanyak-banyaknya organisasi ataupun
individu dalam perjuangannya, serta program solidaritas atau dukungan terhadap
perjuangan rakyat, dari mulai buruh, tani, kum miskin kota, perempuan, dan
rakyat tertindas lainnya di Indonesia.
Pasca
Founding Kongres semua anggota bersemangat, bergairah dan bangga terhadap
organisasinya. Anggota FMN terus bertambah, basis semakin meluas, di Jakarta,
Jambi dan Lamongan telah berkibar
bendera FMN. Semangat ini dirasakan diseluruh Kota FMN. Hanya saja memang ada
kelalaian dari kalangan pimpinan FMN saat itu dalam kerangka bagaimana langkah
selanjutnya agar semangat yang mulai muncul ini segera diartikulasikan lewat
aturan-aturan berorganisasi yang baik.
Rakernas
I FMN pasca Founding Kongres 2003, lebih banyak ditekankan pada
perbaikan-perbaikan organisasi paska Kongres. Ada memang beberapa mekanisme
yang mulai diterapkan seperti penggunaan nama Konferensi, instruksi bahwasanya
pengurus harus tinggal disekretariat organisasi, dll. Beberapa seruan nasional
juga berjalan dengan mulus ini sebenarnya pertanda bahwasanya organisasi mulai
mengarah pada kemajuan.
Setiap
materi pasti akan mengalami kontradiksi. Begitu juga dengan FMN. Pasca Founding
Kongress, ternyata masih banyak kontradiksi–kontradiksi internal yang mengarah
pada perpecahan. Hal ini terjadi di beberapa kota. Di Bandung, 19 anggota FMN
Komite Kampus IAIN SGD akhirnya keluar dari FMN setelah sebelumnya mengadakan
Kongres Luar Biasa (KLB) Kampus. Dalam KLB tersebut dihasilkan sebuah keputusan
pembubaran organisasi FMN di kampus IAIN, kembali kepada organisasi lama yaitu
ALAM-IAIN, 19 orang anggota menyatakan mengundurkan diri, dan mengganti
koordinator Kampus (saat ini, hanya tersisa dua orang anggota di IAIN). Suatu
hal yang sangat mengejutkan dan menyesakkan dada untuk kehilangan kawan-kawan
yang telah sama-sama berjuang membangun organisasi ini. Pada saat itu,
ketidaksepakatan dengan mekanisme FMN yang dinilai terlalu sentralistik dan
menegasikan segi demokratisnya menjadi faktor pemicu keluarnya mereka. Alasan
tentang orientasi juga mengemuka, yaitu bahwa FMN diarahkan pada satu cara
berpandang yang sama, pada satu ideologi yang sama, yaitu Marxisme-Leninisme.
“Faktor eksternal” juga ternyata berperan dalam kasus ini. Beberapa alumni
kampus IAIN juga turut “bermain” dan memprovokasi anggota. Walaupun demikian
harus dengan bijak kita akui, Ini adalah buah dari belum adanya mekanisme yang
baku dan pasti di dalam FMN, serta pemahaman tentang ormas yang berbeda-beda,
sehingga masih mengalami kesalahan yang sama. FMN Komite Kota Bandung juga
belum secara tegas dan mengakar menancapkan kepemimpinannya terhadap
anggota–anggotanya di kampus.
Permasalahan
juga terjadi dalam internal Komite Pusat sendiri saat itu, seperti beberapa
pengurus Komite Pusat yang sering tidak berada disekretariat sehingga praktis
konsolidasi dan koordinasi organisasi menjadi tidak berjalan. Banyak program
yang terbengkalai, Sekretaris Jenderal KP yang menyatakan mengundurkan diri
serta berbagai masalah lainnya yang menyebabkan kepercayaan antara satu sama
lain di internal pengurus menjadi memudar. Pekerjaan dilakukan sendiri-sendiri
sesuai dengan bidang kerjanya. Prinsip kerja dan kontrol kolektif praktis tidak
berjalan, kecurigaan satu sama lain tidak termediasi dalam ruang organisasi.
Gunjang-ganjing perpecahan mulai terasa. Sampai terakhir menjelang rapat kerja
nasional (rakernas) II FMN sempat terjadi konsolidasi akhir Komite Pusat yang
tidak juga menemui titik temu. Semua bersikeras pada pendiriannya
masing-masing. Persoalan ini muncul akibat tidak adanya mekanisme dan juga
pimpinan yang mampu memberikan keteladanan bagi seluruh komponen organisasi
imbasnya Kerja-kerja politik menjadi tidak sinergis dengan kerja organisasi.
Rakernas
II FMN yang merupakan media (sementara dalam aturan organisasi yang lama)
bertemunya pimpinan-pimpinan kota FMN dengan pimpinan pusat FMN untuk melakukan
evaluasi atas pelaksanaan program di setiap level organisasi.
Namun
ternyata Rakernas II FMN menjadi klimaks dan berubah fungsinya. Beberapa
keputusan penting dilahirkan dalam Rakernasi II FMN yaitu Pendemisioneran
Komite Pusat FMN dan Membentuk Badan Persiapan Kongres (BPK) untuk
mempersiapkan Kongres Nasional I. Beberapa akar persoalan yang melatarbelakangi
munculnya keputusan penting itu adalah :
1.
Kepemimpinan KP FMN
dianggap tidak mampu lagi memimpin keberlangsungan FMN secara kolektif
Program-program yang dirumuskan organisasi pada Rakernas I banyak yang tidak
berjalan. Disamping itu juga friksi muncul di kalangan pimpinan FMN. Friksi
antara Ketua dan Sekjend (yang saat itu pernah menyatakan mundur dari
organisasi secara sepihak, kemudian kembali lagi), juga antar departemen yang
begitu jelas dilihat sangat tidak solid oleh pimpinan-pimpinan kota yang hadir
saat itu. Sampai ada salah satu pimpinan kota berucap “ bagaimana bisa memimpin
organisasi secara nasional memimpin kolektifnya (pengurus KP) saja tidak
mampu”. Hal diatas mencerminkan kesemrawutan FMN yang didasari pada persoalan
mekanisme/konstitusi yang harusnya segera dibentuk setelah Kongres Pendirian
FMN.
2.
FMN secara organisasi
memang belum memiliki mekanisme organisasi yang
komprehensif. Semua mekanisme dibangun atas dasar kesepakatan.
Pendemisioneran KP FMN jika dilihat dari logika kebiasaan organisasi memang
kontroversial. Secara logika organisasi ada beberapa kekeliruan tentang tafsir
pendemisioneran KP FMN dalam Rakernas, karena bukan wewenang Rakernas melakukan
hal tersebut. Jika pertanyaan itu muncul maka kami BPK menjawab, “ Ya, itu
adalah benar sebuah kekeliruan, tapi sah kemudain jika hal tersebut diputuskan
oleh mayoritas perwakilan kota yang hadir di Rakernas II”. Keliru jika
dilihat dalam medianya (Rakernas dalam hal ini). Dikatakan Sah karena
selama ini Mekanisme dalam FMN lebih banyak mengutamakan
kesepakatan-kesepakatan (termasuk juga jika kita lihat jujur bagaimana
mekanisme KP dibentuk dan dikukuhkan bukan melalui mekanisme atau forum yang
demokratis) dibandingkan dengan penerapan mekanisme yang ajeg. Dua sisi
tersebut harus menjadi refleksi bagi kita semua agar tidak terulang lagi
dikemudian hari. Maka itulah letak signifikansi Kongres Nasional.
f.
Fase Bertahan
Menghadapi Terpaan Organisasi (Pasca Rakernas II FMN sampai dengan hari ini)
Persoalanya
ternyata tidak selesai sampai disitu, Pasca Rakernas kembali terjadi
ketegangan, kebingungan dari banyak anggota tentang beberapa putusan penting
Rakernas. Di lain sisi organisasi-organisasi sekawan juga mulai mempertanyakan
tentang beberapa persolan yang dialami FMN. BPK yang saat itu dipercaya menjadi
pimpinan kolektif FMN (Komite tertinggi organisasi menuju Kongres Nasional)
kemudian berinisiatif untuk menjawab berbagai keresahan anggota yang muncul
(baik murni bingung ataupun penjelasan yang berbeda dari pihak lain). Karena
faktanya memang beberapa Pengurus KP yang didemisioner terbukti melakukan
provokasi terhadap sebagian pimpinan kota dan basis FMN lewat argumentasi yang
menyesatkan tanpa bersedia melakukan Otokritik atas kepemimpinanya
secara Obyektif dan Komprehensif atas dasar persatuan.
Tulisan
yang diedarkan oleh Kawan Wily Aditya disatu sisi mengandung beberapa hal
yang benar adanya, tapi yang dijadikan landasan melakukan kritik adalah
berdasar pada subyektifisme (perasaan suka-tidak suka) dan tidak melibatkan
seluruh pengurus KP yang lama. Ini berdasar ada pengakuan beberapa eks pengurus
KP yang menyayangkan sikap tersebut. Ditambah lagi beberapa upaya yang
dilakukan oleh Pengurus KP Demisioner mulai mengarah pada tindakan antagonistik
yang mengarah pada perpecahan organisasi seperti :
1.
Penyebaran kritik
dilakukan tidak lewat media resmi organisasi, dalam hal ini tidak disampaikan
kepada BPK FMN ataupun milis organisasi sehingga kebingungan terjadi hampir
diseluruh levelan organisasi.
2.
Beberapa pengurus KP
demisioner tidak bersedia dikonsolidasikan dikota asalnya yang artinya melawan
keputusan Rakernas ke II FMN yang menyatakan bahwasanya Pengurus KP Demisioner
kembali dikonsolidasikan oleh Pimpinan Kota asalnya.
3.
Menolak
undangan-undangan resmi dari BPK FMN untuk mencoba mengklarifikasikan beberapa
hal dalam forum/media resmi organisasi untuk mencegah meluasnya persoalan yang
sesungguhnya berbeda dari persoalan asalnya.
4.
Menyebarkan berbagai
intrik, fitnah yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya kepada anggota-anggota
FMN untuk melahirkan perasaan saling curiga, ketidak percayaan, sikap
bermusuhan satu sama lain dikalangan FMN. Hal ini mengakibatkan berbagi
kerusakan dalam organisasi akibat ketegangan dan sikap saling curiga dikalangan
internal organisasi. Di beberapa kota nuansa ini amat terlihat dan dirasakan
dan mengganggu jalannya kerja-kerja organisasi.
5.
Meluaskan pengaruh
ketidakpuasannya, pesimisme dan tendensi untuk bertentangan dengan BPK
dikalangan basis-basis organisasi dengan membangun sikap ketidakpercayaan
terhadap kepemimpinan BPK FMN
Imbas
dari praktek yang dilakukan oleh beberapa mantan KP FMN demisioner, telah
membuat FMN harus kehilangan satu komite kampus. FMN Komite Kampus UGM
Yogyakarta, pada tanggal 3 Mei 2004 secara organisasi menyatakan keluar FMN.
Kenyataan yang sebenarnya sangat disayangkan. Untuk semua mantan anggota FMN
di UGM sana, berusahalah untuk terus berada di garis perjuangan massa. Suatu
saat, jika garis perjuangan, garis organisasi dan program organisasi kita sama,
pastilah kita akan bertemu kembali.
BPK
berusaha sebijaksana mungkin atas dasar kapasitasnya mempersiapkan kongres
Nasional FMN melakukan berbagai upaya konsolidasi organisasi. Karena BPK
memandang sepanjang persoalan-persoalan yang dimunculkan tidak bersifat
bertentangan dan antagonistik dengan kelangsungan FMN, kita akan menyerahkanya
pada anggota untuk menilainya. Beberapa upaya dilakukan untuk
mengkonsolidasikan kota-kota sekaligus berbagi informasi dengan
pimpinan-pimpinan kota FMN, yaitu dengan :
1.
Menerbitkan Sebar
Perlawanan sebanyak 2 edisi (didistribusikan ke semua Kota) yang berisi tentang
sosialisasi keberadaan BPK dan persiapan-persiapan menuju Kongres serta panduan
organisasi dalam merespons beberapa momentum penting.
2.
Mengisi
pelatihan-pelatihan dan pendidikan di kota-kota (asistensi dan supervisi
pendidikan) yang sebelumnya memang telah berencana untuk melaksanakan
pendidikan. Sehingga beberapa masalah organisasi pasca Rakernas tidak menggangu
agenda dari kota-kota yang telah direncanakan sebelumnya.
3.
Mendatangi langsung
seluruh basis kota untuk memberi penjelasan secara komprehensif tentang
beberapa hal yang menjadi persoalan organisasi atas dasar keterbukaan.
4.
Membangun komunikasi
intens dengan kota-kota dengan segala keterbatasannya demi terus menjaga
intensitas komunikasi dan kesatuan organisasi.
5.
Menyelenggarakan
workshop organisasi di wilayah-wilayah sebagai media sharing BPK dengan
para anggota.
6.
Memberikan panduan
politik organisasi (walaupun seringkali terlambat dengan segala keterbatasanya
atas respon-respon politik) sebagai jawaban tentang masalah kepemimpinan
politik organisasi.
7.
Mempersiapkan
pelaksanaan Kongres Nasional I FMN di Lampung
8.
Menyiapakan draft-draft
materi bahasan Kongres untuk memudahkan pelaksanaan Kongres Nasional.
Demikian
persiapan-persiapan Kongres yang dilakukan dengan segenap tenaga, pikiran demi
ikhtiar membangun organisasi massa mahasiswa sejati yang nantinya diharapkan
akan menjadi organisasinya massa mahasiswa. Walalupun harus diakui upaya
mempersatukan tekad ini tidaklah mudah karena tidak hanya dikalangan pimpinan
organisasi tapi juga pada seluruh anggota-anggota FMN.
g.
Fase Ayo Maju,
Membangun Organisasi Massa Mahasiswa sebagai Alat Perjuanganya Mahasiswa
(Kongres Nasional I)
BPK
FMN yang resmi mulai bertugas sejak tanggal 1 Januari 2004 berupaya semaksimal
mungkin melakukan perbaikan-perbaikan dalam organisasi, dalam artian bagaimana
kedepannya organisasi jauh lebih tertib secara mekanisme dan maju secara
program maupun prakteknya. Tapi itu memang tidak sebanding dengan praktek kerja
yang telah dilakukan oleh seluruh anggota FMN di nusantara. Besar harapan tidak
hanya dari kalangan pimpinan-pimpinan organisasi tapi juga dari seluruh anggota
FMN, bahwasanya Kongres Nasional I yang akan dilakukan akan menjadi tonggak
sejarah bagi kemajuan organisasi dan perjuangan masa ke depannya. Menepis
segala pesimisme, keragu-raguan yang sempat lahir menjadi satu tekad dalam
bendera organisasi yang kita yakini akan mampu menjadi alat perjuangan seluruh
massa mahasiswa Indonesia.
Kongres
I FMN merupakan momentum bersejarah yang akan selalu dikenang oleh seluruh
anggota. Momentum bersejarah ini dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2004 di
Metro, Bandar Lampung. Lebih dari 200 orang utusan dari berbagai daerah ambil
bagian untuk membantu mengelaborasikan pengalaman praktek di setiap kota cabang
FMN. Beberapa agenda penting dibahas dalam Kongres, diantaranya : LPJ Komite
Pusat, LPJ Badan Persiapan Kongres (BPK), pandangan umum cabang-cabang, Perumusan program perjuangan dan AD/ART FMN,
pemilihan Pimpinan Pusat beserta DPP FMN, yang kemudian diteruskan dengan
melakukan rapat Pleno DPP FMN. Meskipun terdapat bebererapa pandangan yang
berbeda di dalam forum Kongres, namun kesatuan menentukan garis perjuangan
Demokratis Nasional menggema menginspirasi semangat didirikannya FMN sebagai
alat perjuangan pemuda mahasiswa. Dalam Kongres ini dipilih komite pimpinan
pusat baru yang akan memimpin organisasi secara nasional selama 2 tahun menuju
Kongres selanjutnya, dimana Hersa Krisna Muslim ditunjuk sebagai Ketua FMN dan
Seto Prawono ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal. Kepengurusan baru dengan
formasi badan pimpinan baru yang membawa semangat baru FMN.
Periode
2004 – 2005 merupakan periode sosialisasi hasil-hasil dari Kongres I FMN. Garis
Perjuangan Demokratis Nasional kesimpulan dari tesis masyarakat yang Setengah
Kolonial dan Setengah Feodal telah memberikan spirit perjuangan yang lebih
jelas bagi arah perjuangan organisasi, meskipun wacana soal garis ini teramat
asing ditengah-tengah gerakan pada waktu itu. Tapi langkah untuk mengkonkritkan
pandangan dan praktek Garis yang baru ini terus dilakukan. Upaya meletakkan
garis ini menjadi bagian dari aktivitas anggota langkah – langkah progresif
dilakukan, diantaranya yang paling menonjol pada periode ini dilaksanakannya
Konferensi Pendidikan di Palembang. Pada Konferensi yang berlangsung selama 5
hari telah menghasilkan kurikulum baku pendidikan FMN dengan tahapan Pendidikan
Penerimaan Anggota (PPA), Pendidikan Dasar Organisasi (PDO), dan Pendidikan
Kepemimpinan Organisasi (PKO). Pendidikan sebagai pondasi tegakknya organisasi
telah dilengkapi dengan kurikulumnya.
Pada
periode ini pula FMN intensif untuk menjalin komunikasi dengan geakan rakyat di
Internasional. Tahun 2005 FMN menghadiri pertemuan ILPS di Hongkong pada saat
momentum kampanye anti WTO, dalam pertemuan ini juga FMN mengklarifikasi
beberapa komunikasi yang tidak terjalin dengan baik yang sempat menyebabkan
subjektivitas kawan-kawan gerakan Internasional terhadap FMN. Pada momentum
yang penuh semarak perjuangan anti imperialisme, FMN resmi menjadi salah satu
member ILPS di Indonesia, selain GRI, dan PERPENI. Selain itu komunikasi juga
mulai terjalin baik dengan kawan-kawan Asiant Student Asociation (ASA).
Di
Tahun 2006, FMN mengambil langkah maju dengan menyelenggarakan pendidikan
pimpinan secara nasional. Untuk membangun pondasi organisasi dengan lahirnya
pimpinan-pimpinan massa yang siap memimipin organisasi kedepan. Keberhasilan
organisasi di peroleh pada periode ini, dimana berdirinya FMN di Cabang Medan
dan Denpasar.
h.
Kongres
Nasional II
Kongres II FMN dilaksanakan pada bulan Agustus
2006, di Kota Lembang, Bandung – Jawa Barat. Di isi dengan Pandangan LPJ PP FMN
periode sebelumnya mengambil tema “Pertahankan
dan Kembangkan Keberhasilan yang Diraih, Perbaiki Kesalahan serta Kekurangan
Untuk Memajukan Perjuangan Massa”, Front Mahasiswa Nasional sebagai
Organisasi Massa Pemuda Mahasiswa. Gerakan Pembetulan sekali lagi di
deklarasikan untuk memperbaiki langgam kerja organisasi, dimana semangat
memajukan teori dan praktek, Bertalian erat dengan massa, serta Menjalankan
Kritik Oto Kritik bisa menjadi bagian
dari keseharian anggota FMM di seluruh nasional. Pada akhirnya Kongres II ini
menghasilkan resolusi-resolusi tentang pekerjaan politik dan Organisasi,
program perjuangan, konstitusi, dan kepengurusan DPP FMN.
Pada Kongres II ini, bendera FMN dengan dasar merah
dengan bintang warna emas 5 buah yang salah satunya bintang besar
ditengah-tengah diganti dengan bendera warna dasar putih dengan tulisan FMN
warna merah miring menuju ke satu bintang emas. Komite pimpinan pusat dengan
fomasi baru dimana sebagai Sekretaris Jenderal pada waktu itu Ridwan Lukman.
Ditengah kepengurusan komite pimpinan pusat yang
baru ini beberapa kemajuan diperoleh. Diantaranya berdirinya FMN di Pontianak,
Makasar, Bojonegoro, Manado dan Bangka Belitung. Pada peiode ini beberapa
kolektif DPP dan CA DPP FMN mengambil pilihan berani dengan menerjunkan dirinya
di gerakan rakyat, dari 27 Anggota sebanyak 12 orang terjun membangun
organisasi rakyat. Sebuah keberanian yang patut menjadi suri tauladan bagi
kemajuan perjuangan demokratis nasional di Indonesia. Pada pleno V Jogjakarta
Sekretaris Jenderal FMN digantikan oleh Nurshohib Anshary dengan formasi komite
pimpinan pusat yang berubah juga. Dibawah kepemimpinan komite baru ini roda
perjalanan organisasi sampai pada terlaksananya Kongres III FMN di Mataram.
i.
Kongres Nasional III
Kongres yang ke 3 FMN dilaksanakan di Mataram –
NTB. Semangat baru dengan tema umum “Tegakkan Perjuangan Pemuda Mahasiswa Untuk
Menyokong Sepenuhnya Perjuangan Buruh dan Tani dengan Memperkuat, Memperbesar
Organisasi serta Memperluas Pengaruh Politik di Tengah Massa”. Dihadiri oleh 20
Perwakilan cabang diseluruh Indonesia (Medan, Jambi, Palembang, Lampung, Bangka
Belitung, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Jogjakarta, Wonosobo, Surabaya,
Jombang, Malang, Denpasar, Mataram, Lombok Timur, Makasar, Palu, Manado, dan
Pontianak).
Pada kesempatan ini dipilih formasi DPP baru yang
selanjutnya memilih Nurshohib Anshary sebagai Koordinator DPP FMN dan juga
Sekretaris Jenderal FMN.
Dengan demikian dasar perjuangan FMN lahir karena situasi
penindasan yang semakin akut dalam sistem Setangah Jajahan dan Setengah Feodal
(SJSF) di Indonesia. Bahwa persoalan yang dihadapi oleh mahasiswa di dalam
kampus dan persoalan sosial ekonominya mempunya akar persoalan yang sama dengan
persoalan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia hari ini. Bahwa persoalan di
sektor pemuda-mahasiswa tidak pernah terlepas dari persoalan pokok rakyat
indonesia atas dominasi imperialisme dan penindasan feodalisme. Maka hanya
dengan besatu padu dalam gerakan rakyat yang berwatak patriotik, demokratik dan
militan dalam satu garis politik anti imperialisme, anti feodalisme dan anti
kapitalis birokrat, FMN akan tetap mampu berdiri dan menjadi barisan terdepan
dalam memperjuangkan hak demokratis pemuda-mahasiswa dan rakyat Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar